Ada Dora Turun dari Bus Kota

Satu hal di hidup ini yang saya sadari adalah: semakin manusia bertambah tua, semakin sempit lingkungan pertemanan mereka. Hal ini seperti berbanding terbalik dengan apa yang saya pikirkan dulu ketika masih kecil.

Logikanya, semakin kita dewasa, jangkauan main kita akan semakin jauh. Lalu, akan bertambah banyak juga orang-orang yang kita temui. Awalnya saya berpikiran banyaknya orang yang saya temui ini akan menambah luas lingkungan pertemanan.

Tapi, yang saya rasakan nggak kayak gitu. Nggak semua orang yang saya temui bisa jadi teman. Apalagi jadi teman baik.

Photo by Alejandro Cartagena 🇲🇽🏳‍🌈 on Unsplash

Ada beberapa nama yang menjadi teman baik saya. Saya nggak akan expose mereka di sini dengan alasan privasi.

Circle pertemanan saya tidaklah terlalu luas. Hanya ada beberapa, seperti sesama pendukung Manchester United, teman kecil, teman genk semasa SMP, ex-roommate, dan pecinta kopi.

Kali ini, sesuai dengan challenge yang diminta, saya akan cerita satu teman baik ex-roommate: teman satu kosan semasa SMP.

Buat saya pribadi, nggak banyak teman lawan jenis yang masih kontakan dengan lumayan intens. Kecuali teman saya ini. Sebut saja Beth — efek pesona Anya Taylor Joy di TV Series The Queens’ Gambit. Hehe…

Beth adalah tipe manusia unik. Satu tahun di atas saya. Chinese, cungkring, dan pemikir.

Kami dulu satu SMP. Pertama saya lihat dia adalah ketika turun dari bus kota di depan sekolah. Yep, dia selalu naik bus pergi/pulang ke/dari sekolah.

Waktu itu nampak ada seorang cewek chinese, cungkring, dengan potongan rambut pendek a la Dora di TV Series “Dora the Explorer” turun dari bus. Kancing baju seragam paling atasnya pun rapih dikancingkan. Dia turun seorang diri. Mencuri perhatian.

Awal mula kami menjadi teman adalah ketika pihak sekolah kami meminta kami untuk jadi 1 tim di lomba Cerdas Cermat (LCC) tingkat kabupaten. Sebaai satu tim, kami harus kompak. Jadi komunikasi adalah kunci. Waktu itu bersama 1 teman yang lain, kami jadi yang terbaik di kompetisi itu. Setelahnya kami jadi lumayan sering berkomunikasi. Tapi semakin saya kenal dia, semakin kelihatan gimana geblegnya ini orang.

Singkat cerita, pertemanan kami berlanjut sampai ke bangku SMA. Kami satu sekolah dan juga ngekos di tempat yang sama. Bagaimana gebleg dan sablengnya Beth semakin terlihat di sini. Dia yang nggak terlalu suka ambil pusing dan easy going membuat kita bisa akrab.

Kebiasaan kami dulu adalah nangkring di atas atap sambil ngobrol apa aja yang terlintas di kepala. Bersama anak-anak kos yang lain, terkadang kami juga gegitaran sambil nyanyi nggak jelas. Waktu favorit untuk ngobrol dan nyanyi adalah sore sambil menikmati senja, malam setelah makan malam, atau pas weekend. Oh, bring me back those memories.

Interaksi saya dan Beth sekarang adalah secara virtual. Karena terkendala jarak. Saat ini Beth tinggal di Taiwan untuk master study.

Beth kini menjadi manusia yang kritis dengan issue sosial. Tipikal yang nggak bisa diem aja kalau ada yang nggak bener. Dia akan speak up dengan caranya sendiri.

Well, enough about Beth!

Saya yakin dia akan baca story ini. Untuk itu, saya ingin bilang,

“Take care di negara orang.

Semoga thesismu cepat selesai.

Dan cepat pulang.”

Ditulis sebagai bagian dari 30 Days of Writing Challenge. It’s Day 10 — Your Best Friend.

Crafting Stories for Therapy

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store