Asing Saja Terus, Sekali-Sekali Lokal, lah!

Day 4 of my #30dayswritingchallenge. In this section, I will be writing my story in Bahasa Indonesia. I think it will be more relevant to the story that I share.

Saya sering malu dengan diri sendiri. Sudah pernah travelling ke negara-negara luar sana, tapi terbatas sekali pengalaman saya berselancar di negeri sendiri. Banyak teman dan keluarga yang suka mengejek saya.

“Paris aja udah lo kunjungin, masa ke Padang aja belum pernah.”

atau, “Eh, seriusan lo Rief belum pernah ke Lombok? Udah jauh-jauh main ke Amsterdam, tapi belum pernah ke Dieng? Astaga.”

Saya pernah tinggal di Rotterdam untuk kuliah, lalu di Bangkok dan Hong Kong untuk kerja. Pernah juga traveling Singapore, Amsterdam, Paris, Milan, dan Antwerp. Namun, sebagai orang lahir dan besar di sebuah kota kecil di Pulau Jawa, daftar lokasi main saya di negeri sendiri masih terpusat di Pulau Jawa — hanya sesekali saja pernah ke luar Jawa.

Pernah saya kulineran di salah satu restoran halal di Sukhumvit, Bangkok ada seorang Jerman berbincang tentang pengalamannya solo traveling ke Raja Ampat dan sekitarnya. Dia cerita betapa indahnya tanah Papua. Sebagai seorang traveler yang malang melintang keliling dunia, nggak tanggung-tanggung dia sebut Papua sebagai salah satu yang terbaik. Saya nggak nanya by the way. Tapi dia yang nyerocos saja sambil saya makan mango sticky rice favorit. Perasaan malu saya makin menjadi karena saya belum pernah menginjakkan kaki di tanah Papua.

Raja Ampat — sourced from here

Jika ada daftar tempat-tempat yang ingin saya kunjungi, maka beberapa nama di Indonesia, di luar Pulau Jawa khususnya, akan nangkring di posisi teratas.

Indonesia adalah negara yang indah dan kaya budaya. Ini tak terelakkan. Mulai daya landscape kota, wisata budaya, pertanian dan perkebunan, juga kulineran khas daerah. Jadi kalau mau traveling di negeri ini ya tinggal pilih saja. Mau wisata jenis apa?

Karena akhir-akhir ini saya lagi tergila-gila dengan kopi, besar hasrat saya untuk main ke daerah penghasil kopi. Salah satu daerah penghasil kopi terbesar adalah Gayo, di tanah Sumatra. Seorang kawan yang punya saudara orang Aceh dan pernah berkunjung ke Gayo banyak cerita tentang daerah itu. Semakin menjadi lah keinginan saya ke sana.

Kopi untuk orang-orang Gayo adalah kehidupan. Sebagian besar masyarakat Gayo hidup dari menanam kopi di perkebunan mereka. Selain menanam, mereka juga terlibat dalam processing cherries kopi, mengolahnya sampai menjadi roasted beans dan bubuk.

Dataran Tinggi Gayo — sourced from here

Selain Gayo, saya juga ingin berkunjung ke beberapa daerah lain di Pulau Sumatra. Daerah-daerah penghasil kopi lainnya seperti Takengon dan Mandheling jadi prioritas. Tempat lainnya tentu saja Padang. Sebagai penggila Nasi Padang, kurang afdhol rasanya kalau belum berkunjung ke Padang langsung.

Selepas pandemi dan ketika keuangan yang saat ini sedang kusut membaik, saya ingin mewujudkan keinginan saya ini.

Oh iya, ada kabar baik. Sebentar lagi saya akan berangkat ke Papua untuk bekerja. Ke salah satu kota indah di tengah-tengah belantara hutan Papua. Sebuah kota yang didesain selayaknya kota-kota di Amerika pada umumnya. Ini akan jadi pengalaman tersendiri dan saya sangat nggak sabar untuk memulai kehidupan di sana.

Crafting Stories for Therapy

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store