Ini adalah satu cuitan di bulan ke empat, 2014.

Photo by Artem Maltsev on Unsplash

Sanggar ini masih sama seperti dulu, selalu menarik perhatianku. Di dinding tempat ini, di mana-mana bergelantungan gambar-gambar karya anak manusia.

Bagiku itu semua adalah magnet yang luar biasa besar, yang selalu menarikku dengan gaya tarik yang besar pula. Menarikku untuk bisa selalu masuk ke dunianya dan menuntunku untuk terus menghasilkan karya-karya yang menakjubkan.

Aku berjalan pelan mengelilingi ruang 6x7 meter persegi ini untuk melihat karya teman-teman yang kebanyakan dipajang di dinding. Ada juga karya tiga dimensi berupa patung-patung serta alat seni musik yang dibuat dari limbah rumah tangga yang dibiarkan berdiri di lantai berubin marmer.

Tempat ini, secara konvensional adalah rumah, sekaligus sanggar Pak Dadang, seniman setempat yang berhati emas. Jiwa seninya luar biasa dan dia juga terbuka kepada siapa saja yang ingin bermain, belajar, bergabung, atau hanya sekadar melihat-melihat karya-karyanya yang terpajang di sanggar ini.

Jadi dalam arti seni, sanggar ini adalah rumah bagi seni itu sendiri. Termasuk para manusia yang tergila-gila dan siapa saja yang mungkin hanya ingin mampir sejenak untuk melupakan kepenatan hidup. Dan menikmati seni tentunya.

Tentang bagaimana aku bisa bertemu dengan sanggar dan juga Pak Dadang cukup lucu.

Rena, adalah seorang teman yang secara tidak sengaja sering bertemu di sebuah warung kopi, di daerah Cisitu, Bandung pada suatu malam.

Dari pertemuan yang tak jarang itu selalu diiringi dengan obrolan-obrolan tidak penting hingga menjurus penting. Dan topik penting — bagiku adalah seputar lukisan. Hingga akhirnya, aku dibawanya ke tempat ini. Tempat yang telah menjadi rumah keduanya sejak mengenal apa itu seni dan telah ia anggap sebagai dunianya dalam versi mini.

Kami berasal dari lingkungan yang berbeda, di mana aku adalah seorang mahasiswa Arsitektur, yang sebenarnya tidak begitu taat di bidangku.

Ketaatanku terbagi menjadi dua kubu yang saling bersebarangan, yakni seni lukis dan arsitektur. Di mana prosentase perbandingannya berkisar di angka 80% :20% — untuk seni tentunya.

Sementara Rena adalah seorang perempuan yang sepenuhnya mencintai seni (tanpa ada duanya) — dan ini yang membuat kami berbeda.

Tak lama setelah ia memperkenalkanku kepada Pak Dadang dan juga sanggar seni miliknya, kami menjadi semakin dekat. Bagiku Rena adalah sahabat terbaik yang selalu nyambung untuk kuajak berbicara.

Aku mengambil jalan kuliah di bidang Arsitektur, hanya untuk sekadar, sedikit tertarik saja. Ketertarikanku, tentu saja ada di bidang seni — terutama seni lukis.

Lalu, apalagi yang bisa dilakukan oleh seorang anak ketika jalan berpikirnya berseberangan dengan orang tuanya?

Melawan? Memberontak? Atau malah pasrah dan menurut? Pilihan yang terakhir tentunya tidak berarti untukku.

Tentu aku telah memberontak untuk mempertahankan keyakinanku. Bahwa aku hanya ingin menjadi seorang seniman yang sukses, yang karyanya bisa dikenal dan dihargai orang banyak.

Sedemikian itu yang menjadi alasanku dan yang bisa kujelaskan tentang definisi sukses kepada Ayah.

Tapi, asal kau tahu, kawan! Aku tidak cukup ahli untuk menjadi pemberontak, apalagi kepada orang tuaku yang menginginkan anaknya untuk menjadi seorang arsitek. Setahuku sampai saat ini, aku adalah seorang pemberontak yang paling buruk.

Jadi, ya beginilah kehidupanku sekarang. Tidak ada yang murni merujuk kesetiaan. Bahwa kenyataannya aku adalah seorang makhluk yang mungkin diciptakan untuk mengambil sebuah jalan yang salah. Untuk menemukan jalan yang benar. Barangkali.

Crafting Stories for Therapy